Perspektif Anak Muda Terhadap Tari Tradisional
Mengajak kaum muda berkomitmen melestarikan tari tradisional itu bukan hal yang mudah.
Bahkan di era globalisasi yang tengah melebur dengan budaya asing, hal ini dapat menjadi perkara yang cukup kompleks.
Pengaruh budaya luar pun seakan mendesak kita untuk terus mengikuti perkembangan zaman.
Sehingga tak sedikit dari kaum muda yang terang-terangan meruntuhkan tembok batasan nilai dan norma-norma di tanah air. Hal yang dilakukannya ini semata-mata hanya untuk menjadi sesosok yang up to date.
Kehadiran budaya asing di tanah air juga tidak dapat dipukul rata sebagai penyebab menurunnya daya tarik terhadap kebudayaan dalam negeri.
Beberapa di antaranya pun tidak dapat dipungkiri telah memberi dampak positif untuk negeri kita.
Salah satu kebudayaan dalam negeri yang sudah jarang dilirik eksistensinya adalah tari tradisional. Tak sedikit di kalangan muda ini lebih tertarik untuk mempelajari tarian modern luar negeri.
Banyak anak muda yang tidak tertarik untuk mempelajari dan melestarikan warisan budaya, salah satunya ialah tari Jaipongan.
Namun, banyak yang belum mengetahui ternyata tari Jaipongan ini adalah salah satu kebudayaan yang sangat ikonik di tanah Sunda. Tari Jaipongan ini juga dinilai menjadi ikon dari tari-tarian Sunda yang tak pernah absen di berbagai pertunjukan dalam negeri maupun luar negeri.
Sejarah Tari Jaipongan
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudpar ) Karawang, Acep Jamhuri dalam sebuah konverensi pers di Karawang, Jawa Barat, ia mengatakan bahwa tari Jaipongan berawal pada tahun 1976.
Pada saat itu Haji Suanda tengah berinovasi menggabungkan keterampilan khususnya dalam dunia seni pertunjukan yang beliau kuasai menjadi satu pertunjukan yang unik. Kemudian terciptalah sebuah kesenian baru yang unik dan menarik bagi seluruh penonton pertunjukan.
Dalam pertunjukannya ini, tari Jaipongan diiringi oleh berbagai macam alat musik tradisional seperti gendang, gong, alat musik ketuk, dan lain sebagainya. Tak jarang tarian ini juga diiringi dengan sebuah vokal wanita atau yang sering disebut sinden.
Ketertarikan masyarakat terhadap salah satu seni garapan Haji Suanda ini membuat beberapa jenis tarian kerap menjadi hiburan fenomenal masa itu.
Para seniman lainnya dari berbagai daerah pun sangat antusias untuk mempelajari tarian garapan Haji Suanda ini. Salah satu seniman yang mempelajari tari kreasi Suanda ini adalah Gugum Gumbira.
Setelah menguasainya ia mengemas ulang gerakan-gerakan yang terdapat dalam tarian tersebut, kemudian ia mulai memperkenalkan tari Jaipong ini pada masyarakat Bandung, Jawa Barat.
Pada perkembangan selanjutnya di akhir tahun 1979. Tarian ini mengalami peningkatan yang signifikan, baik dari segi pementasannya, properti yang digunakan, maupun para seniman yang menguasai gerakan tarian ini. Tak heran jika tari Jaipong ini kemudian dikenal secara luas hampir di seluruh wilayah Jawa Barat seperti Sukabumi, Cianjur, hingga ke Bogor.
Melihat dari latar belakang tersebut, tari Jaipongan tentunya juga memiliki nilai historis tersendiri yang menarik bagi masyarakat Sunda.
Melestarikan Kebudayaan Tanah Sunda
Sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, sudah sepatutnya kita berbangga. Namun, untuk tetap menjaga rasa itu tetap ada, tentunya kita perlu melestarikannya bukan merubahnya seiring mengikuti perkembangan zaman.
“Tari tradisional itu sudah ada sejak lama, sehingga tidak boleh diubah dari segi cerita, segi gerakan, dan alunan lagu.
Pertahankan potensi yang ada di provinsi ini (Jawa Barat), khususnya bidang seni dan budaya,” ujar Anita, spesialisasi seni tari Jaipongan Sanggar Getar Pakuan, lulusan Akademi Kesenian Bogor dalam sebuah perbincangan mengenai tari tradisional.
Bagi penulis beberapa hal yang menghambat kaum muda untuk melestarikan budaya Jaipongan ini ialah minimnya komunikasi budaya.
Dalam persoalan ini kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang budaya. Minimnya komunikasi budaya ini juga sering kali menimbulkan perselisihan antarsuku yang berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.
Kemudian persoalan kurangnya pembelajaran budaya. Dalam hal ini pembelajaran tentang budaya pun harus ditanamkan sejak dini. Namun, dewasa ini banyak yang sudah tidak menganggap pentingnya mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya ini kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaimana cara mengadaptasi budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Menurut penulis juga hal-hal yang dapat kita lakukan untuk melestarikan kebudayaan serta membuat kebudayaan tersebut kembali menarik bagi kaum muda.
Salah satunya ialah dengan culture knowledge, cara ini merupakan usaha pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat sebuah pusat informasi mengenai kebudayaan untuk memberikan edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri serta potensi kepariwisataan daerah.
Dengan demikian para generasi muda dapat terus mengetahui tentang kebudayaanya sendiri.
Lalu, kita juga dapat melestarikan kebudayaan dengan cara mengenal budaya itu sendiri. Dengan hal ini setidaknya kita dapat mengantisipasi pencurian kebudayaan yang dilakukan oleh negara – negara lain.
Menurut Ragil Annisa salah satu penggiat tari Jaipongan, tari tradisional merupakan warisan budaya milik negara kita. Siapa lagi yang akan melestarikannya jika bukan kita sebagai pemuda dan pemudi bangsa. “Jangan sampai terjadi pengklaiman lagi yang sudah-sudah terjadi oleh negara tetangga,” tegas Ragil, Duta Seni Tari Tradisional 2013 saat diwawancarai.
Bagi Ragil, tari tradisional khususnya tari daerah juga memiliki nilai di setiap nama tariannya, judul lagunya, bahkan nama gerakannya pun memberi arti yang tak jarang menceritakan tentang sejarah zaman kerajaan terdahulu.
Jadi sudah seharusnya sebagai kaum millennials, menjaga serta melestarikan budaya tarian Jaipongan ini. Berbagai cara yang memikat dan mengesankan dapat menjadi daya tarik anak muda agar mau belajar tari Jaipongan. Salah satunya dengan mempelajarinya.
Komentar
Posting Komentar