Cerita Bathara Sang Penari yang Mengepakan Sayapnya Hingga Jagad Internasional


Eksistensi penari wanita kian hari kian membanjiri tanah air. Baik tari tradisional maupun tari modern. Namun, kali ini siapa sangka penari satu ini adalah sosok pria. Penari yang masih terbilang muda ini ternyata telah mengharumkan bangsa Indonesia di kancah mancanegara.


Apa yang telah mendorongnya untuk tetap berkarya di usianya yang masih sangat muda? Bahkan ia telah mengharumkan nama bangsa. Siapakah sosok yang sangat inspiratif ini?

Penari muda yang telah berhasil mengepakan sayapnya hingga jagad mancanegara ini bernama Bathara Savieragadhi Dewandoro. Bathara, tumbuh di lingkungan seniman tradisi. Ayahnya merupakan sosok begawan tari alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sementara Ibunya, adalah master tari dunia, alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tak heran  apabila passion menari dimiliki Bathara sudah mendarah daging kepadanya sejak kecil.

Menyukai Tari Sejak Kecil
Sejak kecil Bathara mengaku bahwa hiburannya merupakan permainan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Saya lebih suka menggarap sesuatu. Seperti menggarap konsep dan membuat tari-tarian,” ujar Bathara saat mengenang masa kecilnya.

Saat itu juga ia tak jarang membuat pertunjukan di garasi rumahnya. Bathara tidak hanya mendalami soal tari, tetapi ia juga mempelajari soal penataan busana seperti kostum untuk pertunjukan, serta membuat pola lantai tarian. Ia membuat komposisi dan pola lantai sebuah tarian, semata-mata hanya untuk hiburan belaka bersama teman-temannya.

Bathara mulai intensif mempelajari tari sejak ia menduduki bangku SD. Bathara mengaku bahwa ia mengenali tari, dikarenakan sejak kecil ia sering diajak orang tuanya menyaksikan pentas-pentas tari yang diselenggarakan orang tuanya. Tepatnya di sanggar yang didirikan oleh kedua orang tuanya, Sanggar Swargaloka.

Saat ia menginjak usia 15 tahun, mulailah kemampuannya dalam menggarap suatu tari semakin berkembang. Saat ulang tahun sanggar orang tuanya Sanggar Swargaloka, Bathara diberi kesempatan untuk menggarap suatu koreografi. Sejak saat itulah Bathara sudah dipercaya dapat melatih tarian kepada anak-anak di Sanggar Swargaloka milik kedua orang tuanya.

Bukan hanya karena itu cerita unik dibalik ia benar-benar dipercaya oleh orang tuanya untuk melatih sanggar itu, tetapi lebih dikarenakan ia telah mengikuti sebuah lomba yang diselenggarakan di Anjungan Jambi Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Bathara dan teman-teman yang mengikuti lomba tersebut, berinisiatif untuk menggunakan Tari Panca Spiral, dengan menggunakan pola lantai garapannya sendiri tanpa bimbingan guru-guru, ataupun kedua orang tuanya dalam lomba tersebut. Nasib baik ada pada Bathara dan teman-temannya. Ia berhasil meraih Juara 1 pada saat lomba tersebut. Jadi pantas saja orang tuanya memberikan kepercayaan besar tersebut kepadanya.

Reputasinya di ranah seni khususnya tari, sempat membawa Bathara ke jagad Internasional. Kematangan secara empirik, ditambah kemauannya mengeksplorasi dan melakukan berbagai eksperimen, menjadikan karya-karyanya sangat menonjol dan diminati.

Ia pun pernah dipercaya pemerintah Indonesia  untuk membawa misi kesenian ke India pada tahun 2008. Saat itu Bathara bahkan masih duduk di bangku SD. Lalu pada tahun 2016, ia juga menuntaskan lawatannya ke New Zealand, Selandia Baru dalam rangka pertukaran budaya yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Di bulan yang sama pula, Bathara ditetapkan sebagai salah satu penari terbaik oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Serta karya tarinya yang berjudul “Si Tuan Jingga” mendapat predikat Juara 3 Festival Betawi yang diselenggaraan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Tarian Paling Berkesan
Bathara mengaku dalam mencipta sebuah tari khususnya tarian yang paling sangat berkesan baginya. Ia terinsipirasi oleh tarian Banyuwangi, yaitu Gandrung Banyuwangi. Lebih tepatnya sangat terinspirasi oleh salah-satu adegannya yaitu Paju Gandrung. Di mana ia melihat sebuah penolakan yang diberikan penari gandrung kepada pemaju agar ia tidak tercium atau tersentuh. Itulah yang menginspirasi Bathara untuk membuat “Tari Refusing”, tarian yang sangat berkesan banginya.

Adegan Paju Gandrung menurut Bathara memiliki pesan sosial yang berkaitan dengan permasalahan yang banyak dihadapi dalam kehidupan yaitu, soal pergolakan yang banyak terjadi di daerah-daerah di Indonesia.

Menurutnya setiap tarian yang diciptakannya itu selalu memiliki tantangannya masing-masing. Salah satunya tarian “Refusing” ini. Dalam penggarapannya Bathara sering mengalami kendala di penataan musik. 

Tak hanya itu, Bathara ternyata sempat bersitegang dengan beberapa seniman Banyuwangi, mereka begitu sangat kontra dengan tarian “Refusing” garapan Bathara. Menurut para seniman tarian garapan Bathara memiliki nilai-nilai yang berbeda. Namun, setelah Bathara merepresentasikannya  kembali dengan baik, beberapa seniman Banyuwangi itupun sangat amat takjub sehingga mereka memberikan acungan jempol dan menghilangkan pandangan kontranya kepada Bathara.

Laki-laki jadi Penari, Tidak Masalah!
Menjadi penari mungkin untuk sebagian orang akan berpikiran tentang wanita. Namun bagaimana dengan Bathara?

Dilema menjadi penari pria mungkin dulu pernah dirasakan. Dulu ketika ia duduk di bangku SD, Bathara mengaku ia selalu dihakimi oleh anak-anak seusianya karena menyukai hal-hal yang berbeda dengan teman-teman seusianya.

Namun, beranjak remaja teman-teman Bathara di bangku SMP, SMA, dan Kuliahnya bertransformasi dan lebih terbuka pemikirannya. Mereka menjadi lebih berkembang dalam soal pemikiran terutama soal gender. Sehingga sudah tidak ada lagi yang mengolok-olok seperti ia duduk dibangku SD.

”Justru mereka sangat mendukung saya dalam kegemaran saya ini. Sehingga saya dapat tetap konsisten dalam hal yang saya lakukan dan terus berkarya,” ujar Bathara sambil tersenyum.

Dalam usahanya menjadi penari kelas dunia, Bathara pun sempat mengaku ia pernah jenuh. Jenuh apabila ia sudah tidak menemukan ide baru mengenai gerakan karya tarinya. Menurutnya, setiap orang pasti pernah mengalami hal semacam itu jadi wajar saja. Namun, apabila ia behenti mencari, ia tidak akan mendapatkan emas yang ia cari. Sehingga jenuh bukan menjadi hal yang dapat mengalangi dalam usahanya untuk terus mempelajari setiap basic tarian dari masing-masing daerah yang ada di nusantara, karena ia sangat berharap dapat menguasai tarian-tarian yang ada di Indonesia ini.

Harapan terbesar Bathara dengan tarian tariannya terutama tarian garapannya sendiri ini “Refusing ialah kelak dapat menjadi sebuah pentas besar di berbagai macam kota hingga ke luar negeri. Ia juga berharap dapat diundang oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)  untuk menghadiri ataupun turut berpartisipasi dalam sebuah festival khusus koreografi.



Komentar